img
Pilih Bahasa:

Murasaki Shikibu: Penulis Novel Pertama di Dunia

Lahir pada tahun 973 di Heian-kyo, Jepang, seorang perempuan bangsawan bernama Murasaki Shikibu, banyak disebut ahli sebagai penulis novel pertama dalam sejarah manusia. Ia menulis karyanya yang berjudul The Tale of Genji (源氏物語) jauh sebelum bentuk sastra modern seperti yang kita kenal sekarang muncul di Eropa.

Pada masa itu, karya sastra umumnya berbentuk puisi atau kisah epik yang mengangkat mitos atau agama. Cerita-cerita tersebut sering menonjolkan pahlawan dan dewa, bukan manusia biasa dengan pergulatan batin yang rumit. Murasaki memecah pola tersebut. Ia menghadirkan kisah yang tidak berfokus pada petualangan heroik, melainkan pada kehidupan batin tokoh-tokohnya, dari perasaan cemburu, kerinduan, duka, serta ambisi. Untuk pertama kalinya, para tokoh dalam sebuah karya tulis terasa hidup, dengan emosi dan pikiran yang mendalam yang dapat dipahami pembacanya. Pendekatan psikologis yang begitu tajam inilah yang membuat The Tale of Genji dianggap sebagai fondasi novel modern.

Latar dan Isi Cerita

Kisah ini terbentang sepanjang 54 bab dan dalam versi terjemahan modern mencapai lebih dari 1.400 halaman. Latar waktunya adalah periode Heian (794–1185 M), masa keemasan kebudayaan istana Jepang yang dikenal halus, puitis, dan penuh aturan sosial yang ketat.

Tokoh utamanya adalah Hikaru Genji, atau “Pangeran Bersinar”, putra kaisar dengan seorang selir yang sangat dicintai. Genji digambarkan sebagai sosok sempurna, tampan, berpendidikan, mahir bermain musik dan menulis puisi, serta memiliki pesona yang memikat semua orang di sekitarnya. Namun di balik keistimewaan itu, nasibnya tidak sepenuhnya bahagia. Karena alasan politik, ia tidak diizinkan naik takhta dan akhirnya harus menanggung kehidupan penuh intrik, cinta terlarang, dan pengasingan.

Meskipun berjudul The Tale of Genji, kisah ini tidak hanya berputar di sekitar dirinya. Murasaki menggambarkan dunia di sekeliling sang pangeran, mulai dari para perempuan istana, pelayan, bangsawan, hingga tokoh-tokoh yang hidup setelah kematiannya. Novel ini bahkan melanjutkan kisah ke generasi berikutnya, menyoroti kehidupan anak dan cucu Genji.

Yang menarik, Murasaki tidak hanya menulis dalam bentuk prosa, tetapi juga menyelipkan sekitar 800 puisi pendek (waka) yang menjadi sarana para tokohnya mengekspresikan perasaan mereka. Perpaduan antara prosa dan puisi ini menciptakan irama yang indah dan menggambarkan kepekaan estetika khas masyarakat Heian.

Dunia Istana dan Pandangan Perempuan

Sebagai seorang dayang istana di era Heian, Murasaki Shikibu memiliki pandangan langsung terhadap kehidupan kalangan bangsawan. Ia menyaksikan bagaimana keindahan, kesopanan, dan cinta berbaur dengan politik, iri hati, serta kesepian. Pengalaman pribadinya ini kemudian menghidupkan suasana istana dalam Genji, mulai dari upacara megah, permainan puisi, hingga percakapan halus yang menyembunyikan ambisi kuat di balik sopan santun.

Yang membuat The Tale of Genji semakin luar biasa adalah cara Murasaki menulis tokoh-tokoh perempuannya. Mereka bukan sekadar pelengkap cerita, melainkan karakter dengan keinginan, ketakutan, dan penderitaan sendiri. Dalam dunia yang dikendalikan laki-laki, para perempuan di Genji menunjukkan bentuk kekuatan melalui kecerdasan, kesabaran, maupun daya tarik emosional. Melalui mereka, Murasaki memberi suara bagi pengalaman perempuan pada masanya.

Asal Usul dan Penulis yang Misterius

Waktu pasti penulisan The Tale of Genji masih menjadi perdebatan. Para ahli memperkirakan Murasaki mulai menulisnya sekitar tahun 1001, dan menyelesaikannya menjelang 1010, saat ia masih bertugas di lingkungan istana kekaisaran.

Menariknya, nama aslinya tidak pernah diketahui. Di masa itu, perempuan tidak disebut dengan nama pribadi mereka, melainkan dengan jabatan atau hubungan keluarga. “Shikibu” diambil dari jabatan ayahnya di Biro Upacara Istana (Shikibu-shō), sementara “Murasaki” berasal dari nama salah satu tokoh perempuan penting dalam novelnya yang juga berarti warna ungu, simbol keanggunan dan kerahasiaan dalam budaya Jepang.

Warisan Sastra yang Abadi

Meskipun ditulis menggunakan aksara kana, yang pada masa itu dianggap sebagai “tulisan perempuan” dan sering diremehkan oleh kalangan pria terpelajar yang menggunakan aksara Tionghoa (kanji/hanzi), karya Murasaki justru bertahan sebagai mahakarya abadi.

Selama berabad-abad, The Tale of Genji menjadi sumber inspirasi bagi seni, lukisan, teater, dan sastra Jepang. Naskah-naskah kuno dihiasi ilustrasi indah, dan kisahnya terus diadaptasi ke dalam berbagai bentuk, mulai dari drama noh hingga film dan manga modern.

The Tale of Genji adalah sebuah potret tentang kerentanan manusia, keindahan dunia, dan pencarian makna hidup di tengah kehidupan sosial yang penuh batasan. Melalui tulisannya, Murasaki Shikibu berhasil menulis sesuatu yang melampaui zamannya, sebuah karya yang masih berbicara pada pembaca dan di pelajari di seluruh dunia bahkan seribu tahun kemudian.

Tag
#The Tale of Genji #Genji Monogatari #Murasaki Shikibu #Fakta Jepang #Sejarah Jepang #Literasi Jepang #Novel Jepang #Penulis Jepang #LPK Higlob #Higlob International Education
0 Likes