Ikon Abadi Jepang, Inilah fakta tentang Gunung Fuji
Dari decak kagum para wisatawan, unggahan Instagram, hingga vlog TikTok yang langsung menarik perhatian, Gunung Fuji adalah salah satu landmark paling ikonik di Jepang. Bentuknya yang menjulang dan tegas membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan. Gunung Fuji sering disebut sebagai jantung dari “Negeri Matahari Terbit”.
Dengan ketinggian 3.776 meter, Gunung Fuji adalah gunung tertinggi di Jepang. Namun, maknanya jauh melampaui sekadar angka. Dari asal-usul kuno hingga nilai spiritualnya, Fuji-san menyimpan sejarah dan makna yang mendalam.
Arti Nama Fujisan
Di Jepang, gunung ini disebut Fuji-san. Ini bukan akhiran “-san” yang digunakan untuk menyapa orang secara sopan. “San” di sini berasal dari pembacaan Sino-Jepang untuk karakter 山 (yama), yang berarti gunung. Karena itu, 富士山 dibaca sebagai Fujisan, bukan Fuji-yama.
Karakter 富 (fu) sering diartikan sebagai “kekayaan” dan 士 (ji) sebagai “samurai”, tetapi asal-usul sebenarnya dari nama “Fuji” masih belum pasti. Tidak ada catatan sejarah yang menjelaskan secara jelas kapan dan bagaimana gunung ini pertama kali dinamai, sehingga maknanya masih menjadi bahan perdebatan.
Sejarah Gunung Fuji
Karena kehadirannya yang begitu menonjol, Gunung Fuji telah dikagumi dan dicatat selama berabad-abad. Salah satu tokoh religius terkenal, Hasegawa Kakugyō (1541–1646), konon mendaki Gunung Fuji lebih dari 100 kali. Pengabdiannya melahirkan Fuji-kō, kelompok pemuja yang membangun kuil, mendirikan monumen batu, dan melakukan puasa sebagai bentuk penghormatan terhadap gunung ini.
Meskipun gerakan tersebut kemudian dilarang oleh Keshogunan Tokugawa, tradisi pemujaan gunung tetap berlanjut dan Gunung Fuji terus memiliki makna penting bagi masyarakat Jepang.
Setelah tahun 1600, ketika Tokyo menjadi ibu kota dan perjalanan di sepanjang Jalur Tōkaidō semakin ramai, semakin banyak orang yang dapat melihat Gunung Fuji secara langsung. Menurut legenda, pendakian pertama dilakukan oleh seorang biksu pada tahun 663, sementara orang asing pertama yang mencapai puncaknya adalah Sir Rutherford Alcock pada tahun 1868.
Proses Terbentuknya Gunung Fuji Secara Geologis
Pembentukan Gunung Fuji cukup kompleks. Ada tradisi yang menyebutkan bahwa gunung ini terbentuk akibat gempa bumi pada tahun 286 SM, tetapi penelitian geologi menunjukkan proses yang jauh lebih panjang. Para ilmuwan percaya bahwa Gunung Fuji berkembang selama ratusan ribu tahun.
Gunung ini berdiri di atas dasar yang berusia jutaan tahun dan tersusun dari lapisan tiga gunung berapi yang berbeda, yaitu Komitake, Ko-Fuji atau Fuji Tua, dan Shin-Fuji atau Fuji Baru. Shin-Fuji, yang membentuk Gunung Fuji seperti yang kita lihat sekarang, mulai aktif sekitar 10.000 tahun yang lalu dan masih tergolong gunung berapi aktif, meskipun letusannya jarang terjadi.
Letusan terakhir tercatat terjadi pada tahun 1707 hingga 1708, pada masa periode Edo.
Ciri Fisik dan Geologi
Gunung Fuji adalah stratovolcano, yang menjelaskan bentuk kerucutnya yang simetris dan khas. Bentuk ini terbentuk dari tumpukan lava dan abu vulkanik selama ribuan tahun.
Saat ini, Gunung Fuji dianggap tidak aktif, tetapi dipantau secara ketat oleh pemerintah Jepang dan badan geologi. Rencana darurat, rute evakuasi, dan sistem peringatan siap jika Fuji memutuskan untuk bangun dan menimbulkan kekacauan.
Karena ketinggiannya yang sampai 3,776 m, puncak gunung tertutup salju selama sekitar lima bulan dalam setahun, biasanya dari November hingga Mei, menambah keindahannya yang sudah menakjubkan. Bahkan di musim panas, suhu di puncak dapat turun di bawah titik beku, suhu rata-rata di bulan Juli sekitar –5°C. Karena iklim yang keras dan cuaca yang tidak dapat diprediksi, musim pendakian resmi terbatas pada bulan Juli dan Agustus, ketika kondisi paling aman.