img

Kesalahan Pekerja Konstruksi yang Harus Dihindari!

Bagi kalian yang ingin pergi bekerja di Jepang pada bidang konstruksi atau sudah memulai prosesnya dari sekarang harus tahu tentang prinsip Anzen Daiichi (Keselamatan Nomor Satu). Tentunya prinsip tersebut bukan hanya menjadi slogan, melainkan budaya kerja yang mutlak. Adanya kesalahan kecil tidak hanya berakibat terhentinya proyek, tapi juga dapat mengancam nyawa orang. Maka dari itu kalian harus menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan masalah bagi diri sendiri dan orang lain.

1) Memodifikasi atau Mengabaikan Penggunaan APD (Alat Pelindung Diri)

Ketika kalian tiba di Jepang maka akan paham bahwa standar kelayakan APD sangat ketat. Adapun kesalahan fatal tentang penggunaan APD.

  • Kesalahan Fatal: Tidak mengaitkan Full-Body Harness (Anzen Tai) saat berada di ketinggian, tidak mengunci tali helm keselamatan, atau menggunakan sepatu keselamatan (Safety Shoes) yang sudah aus.
  • Solusinya: Selalu lakukan pengecekan mandiri sebelum mulai bekerja. Pastikan harness terpasang ganda (double lanyard) jika berada di area berisiko tinggi.

2) Mengacuhkan Prosedur Hou-Ren-So ketika Ada Masalah

Perlu kalian ketahui Hou-Ren-So (Melaporkan, Menginfokan, Mengonsultasikan) merupakan nyawa dari manajemen proyek di Jepang.

  • Kesalahan Fatal: Menutupi kesalahan kecil, menyembunyikan kerusakan alat karena takut dimarahi, atau mencoba memperbaiki mesin/konstruksi yang rusak sendirian tanpa melapor. Hal ini bisa memicu kecelakaan beruntun.
  • Solusinya: Sekecil apa pun masalahnya (alat retak, salah potong material, atau merasa pusing/sakit), segera laporkan kepada Leader (Fukumuchou atau Seirisha) saat itu juga.

3) Mengacuhkan Tradisi Kiken Yochi (Prediksi Bahaya) sebelum Pekerja

Ketika kalian bekerja di Jepang pada bidang konstruksi, akan sering melakukan KYT (Kiken Yochi Training) atau bisa disebut briefing prediksi bahaya sebelum bekerja atau senam pagi.

  • Kesalahan Fatal: Menganggap briefing ini formalitas belaka, melamun, atau tidak melakukan gerakan Yubiashi Koushou (menunjuk dan meneriakkan kondisi aman, misalnya: "Yoshi!").
  • Solusinya: Fokus penuh saat briefing. Pahami titik bahaya di area kerja kalian hari itu (misalnya: ada area licin, kabel terkelupas, atau operasi alat berat di dekat kalian).

4) Mengoperasikan Alat Tanpa Izin Tertulis Hari Itu

Kalian yang sedang magang kerja di Jepang ataupun yang sudah memliki lisensi, kalian tidak mengoperasikan alat begitu saja seperti Forklift atau Aerial Work Platform, harus ada izin tertulisnya dulu.

  • Kesalahan Fatal: Langsung naik dan menyalakan mesin tanpa mengisi form pengecekan harian (Tenken) dan tanpa izin dari Leader yang bertugas pada hari itu.
  • Solusinya: Isi formulir ceklis pemeriksaan fisik kendaraan. Periksa oli, sistem hidrolik, rem, ban, dan fungsi alarm mundur. Laporkan kondisi alat kepada Leader atau Anzen Kanrisha (Pengawas Keselamatan) saat briefing pagi. Anda harus mendapatkan lampu hijau dan kunci resmi dari mereka.

5) Lalai dalam Manajemen 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke)

Kalian harus tahu juga bahwa banyak kecelakaan di area konstruksi terjadi bukan karena strukstur bangunan, tapi area kerja yang berantakan.

  • Kesalahan Fatal: Membiarkan kabel melintang di jalan, menumpuk material di jalur evakuasi, atau membuang sisa potongan besi sembarangan yang bisa membuat orang tersandung atau tertusuk.
  • Solusinya: Terapkan Seiri (Ringkas) dan Seiton (Rapi). Setiap kali selesai menggunakan alat tangan (Kougu), langsung kembalikan ke tempatnya. Area kerja yang bersih merupakan cerminan pekerja yang profesional.

Itulah beberapa larangan ketika kalian bekerja di bidang konstruksi di Jepang. Bekerja di Jepang tentunya akan berbeda jika dibandingkan di Indonesia, sehingga kalian harus bisa metaatinya dan menyesuaikannya,

Tag
#Magang Jepang #LPK Higlob #Keselamatan Kerja #Larangan Pekerja Konstruksi Jepang
0 Likes